Sempat terpikir untuk berhenti menghadapi tiap kegagalan yang dialami bukanlah hal yang bijak. Seseorang jika memang memiliki visi-misi hidup yang matang taka akan mungkin menjadikan hal ini sebagai langkah terakhir. Jika orang mengatakan bahwa kemampuan kita terbatas, ya memang terbatas tapi perlu diingat bahwa terkadang kita sendiri yang membatasinya.
Apa sih sebenarnya maksud dari melakukan sesuatu secara maksimal??? Ibarat air yang dituangkan dalam sebuah gelas, maksimal disini adalah ketika air yang dituangkan luber. Apabila belum, tentulah itu bukan maksimal namanya...kitanya saja yang enggan. Nah, klo udah begitu apa kemudian kita membiarkan dan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki? TIDAK, Sobat! Kita BISA dan MAMPU 'tuk lakukan semua itu, karena kita tercipta dengan berjuta potensi. Klo membaca paragraf demi paragraf buku The Divine Massage of DNA mungkin barulah kita tersadar bahwa seseungguhnya, ada sisi dalam hidup kita yang selama ini masih tertidur, entah belum sempat dbangunkan atau saking tidak sadarnya sehingga kita melupakannya?
Berpikirlah lebih dewasa, jangan menganggap kegagalan adalah kesia-siaan tapi jadikan sebagai pelejit potensi hidup kita. Klo nggak sekarang kapan lagi???
Gagal itu peringatan, pertanda kita harus lebih banyak belajar lagi... So, daripada diam n nggak ngehasilin apa-apa mending belajar dan bangkit berusaha lagi.
Ingat 1 X 16 itu beda sama 16 X 1....hasilnya, kualitasnya, dan cetakannya jelas beda!
SEMANGAT menuju pribadi TAQWA!
Sebuah catatan panjang perjalanan anak rantau yang terlahir dari rahim para perantau dengan maksud mengabadikan episode hidupnya,episode demi episode...Smoga bisa menghibur para pembaca!
Selasa, 12 Oktober 2010
Jumat, 01 Oktober 2010
Masa Depan Kita
Masa depan adalah rangkaian dari kehidupan kita. Yang merupakan suatu keniscayaan. Masa depan memberikan arti penting bagi tiap visi-misi hidup saat ini, karena disana tersimpan berjuta impian yang memerlukan usaha dalam meraihnya.
Manusia modern dengan perkembangan pengetahuan yang semakin 'menggila' seringkali mewujudkan hal 'gila' pula yang terapresiasikan nyata. Kehidupan yang serba instan hanya akan melewatkan waktu-waktu berharga pembelajaran yang sesungguhnya. Dulu ketika kalkulator belum jadi pegangan, otak adalah satu-satunya andalan kita dalam mengolah angka. Kendati demikian, pikiran yang sudah terbiasa instan pun selalu mencari cara instan pula untuk mengkalkulasikannya. Tak perlulah saya menuliskannya dalam bentuk kata, karena hal ini sudah sangat dimengerti oleh manusia modern saat ini. Lambat laun yang tersisa di bumi ini hanyalah orang-orang instan. Tak ada lagi cerita trentang perjuangan, tak ada lagi terdengar cerita sedih akibat kegagalan. Semua instan, mudah diakses, bahkan seringkali berbentuk jaringan.
Sayangnya otak ini apabila belum bekerja secara maksimal. Tak hanya persoalan spesialisasi yang kita tempuh saja yang perlu disoroti, tetapi juga kemampuan kita dalam beraktualisasi dilapangan yang perlu dipraktekkan karena terkadang fasilitas hanya menggiring kta untuk menghentikan aktivitas-aktivitas itu.
Sungguh sayang sekali jika pengalaman hidup itu tak ada yang kita rasakan dan maknai. Karena hidup bukanlah hanya kesenangan semata. Iya, klo misalnya ia bisa menjamin kehidupannya akan selalu dalam masa-masa yang pasti bahagia selamanya. Adakah kau rasakan kehampaan ketika kau menjalani hidup? Jika iya, mungkin itu adalah bagian dari sisi-sisi kehidupan kita yang belum sampat kita poles.
Maka, jalanilah hidup ini dengan sebagaimana mestinya. Memanfaatkan tiap potensi baik dalam diri kita akan mengantarkan kita untuk jauh memahami kehidupan itu sendiri, kita akan siap jikalau harus berada di bawah dan tidak takabur ketika nikmat Allah datang bertubi-tubi karena semuanya hanyalah milik Allah 'Azza wa jalla. Wallahu'alam bishshowab.
-Terinspirasi dari pengalaman hidup malaikat duniaku, sungguh aku bersyukur menjadi bagian dari keduanya. Allah Maha Penyayang-
Manusia modern dengan perkembangan pengetahuan yang semakin 'menggila' seringkali mewujudkan hal 'gila' pula yang terapresiasikan nyata. Kehidupan yang serba instan hanya akan melewatkan waktu-waktu berharga pembelajaran yang sesungguhnya. Dulu ketika kalkulator belum jadi pegangan, otak adalah satu-satunya andalan kita dalam mengolah angka. Kendati demikian, pikiran yang sudah terbiasa instan pun selalu mencari cara instan pula untuk mengkalkulasikannya. Tak perlulah saya menuliskannya dalam bentuk kata, karena hal ini sudah sangat dimengerti oleh manusia modern saat ini. Lambat laun yang tersisa di bumi ini hanyalah orang-orang instan. Tak ada lagi cerita trentang perjuangan, tak ada lagi terdengar cerita sedih akibat kegagalan. Semua instan, mudah diakses, bahkan seringkali berbentuk jaringan.
Sayangnya otak ini apabila belum bekerja secara maksimal. Tak hanya persoalan spesialisasi yang kita tempuh saja yang perlu disoroti, tetapi juga kemampuan kita dalam beraktualisasi dilapangan yang perlu dipraktekkan karena terkadang fasilitas hanya menggiring kta untuk menghentikan aktivitas-aktivitas itu.
Sungguh sayang sekali jika pengalaman hidup itu tak ada yang kita rasakan dan maknai. Karena hidup bukanlah hanya kesenangan semata. Iya, klo misalnya ia bisa menjamin kehidupannya akan selalu dalam masa-masa yang pasti bahagia selamanya. Adakah kau rasakan kehampaan ketika kau menjalani hidup? Jika iya, mungkin itu adalah bagian dari sisi-sisi kehidupan kita yang belum sampat kita poles.
Maka, jalanilah hidup ini dengan sebagaimana mestinya. Memanfaatkan tiap potensi baik dalam diri kita akan mengantarkan kita untuk jauh memahami kehidupan itu sendiri, kita akan siap jikalau harus berada di bawah dan tidak takabur ketika nikmat Allah datang bertubi-tubi karena semuanya hanyalah milik Allah 'Azza wa jalla. Wallahu'alam bishshowab.
-Terinspirasi dari pengalaman hidup malaikat duniaku, sungguh aku bersyukur menjadi bagian dari keduanya. Allah Maha Penyayang-
Langganan:
Postingan (Atom)