“Ayah, ayah” kata Sang Anak
“Ada apa?” tanya Sang Ayah
“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek, aku mau menyontek saja! aku capek, sangat capek.
Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek.
Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung, aku ingin jajan terus!
Aku capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati.
Aku capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedangkan teman-temanku seenaknya saja bersikap kepada ku.
Aku capek Ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka. Mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis.
Kemudian sang Ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ”Anakku ayo ikut Ayah, Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak.
Kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” sang ayah hanya diam.
Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.
“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.
“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.
” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah…”
” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”
” Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”
” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya Yah? Alhamdulillah”
”Nah, akhirnya kau mengerti”
”Mengerti apa? aku tidak mengerti”
” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi.
Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga, dan akhirnya semuanya terbayar kan? Ada telaga yang sangat indah. Seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”
” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”
” Ayah tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi, ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri. Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain,jadilah dirimu sendiri, jadilah seorang muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena tahu ada Allah di sampingnya. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Maka kau tau akhirnya kan?”
” Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”
Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.
sumber: halaqohdakwah.com
Catatan Perjalanan
Sebuah catatan panjang perjalanan anak rantau yang terlahir dari rahim para perantau dengan maksud mengabadikan episode hidupnya,episode demi episode...Smoga bisa menghibur para pembaca!
Minggu, 19 Juni 2011
Sabtu, 11 Juni 2011
Berbagi Hikmah dengan Sahabat(dipetik dari pengalaman hidup)
Sahabat, ketika dulu aku ‘terjatuh’…
Allah menyadarkanku bahwa aku perlu untuk lebih memperhatikan hak atas diriku, karena aku lalai, aku seringkali mendahulukan kepentingan yang lain dibanding kepentingan diriku…bahkan tak ada kata tawazun.
Sahabat, kemudian Allah membangkitkan diriku dari ‘tidur’ yang panjang…
Aku menyadari bahwasanya ‘tidur’ku terlalu lelap dan aku telah banyak membuat orang lain menjadi korban atas kekhilafanku sehingga Allah ‘menyiram’ku dengan air dingin tepat diwajahku. Aku terbangun, tersadar, dan aku pun beranjak untuk menata kembali apa yang sempat terabaikan.
Alhamdulillaah, di ‘sana’ banyak hikmah yang Allah ajarkan padaku. Diantaranya:
1. Keikhlashan
2. Kesabaran
3. Kegigihan
4. Husnuzhon dalam segala hal
5. Jika ingin berkata maka bicaralah dengan kerja
dan masih banyak lagi kawan…
Tak kan pernah cukup apabila seluruh lautan ku jadikan tinta untuk menuliskan nikmat dan hikmah yang telah Allah berikan padaku. Satu nikmat yang begitu berharga…kehidupan. Hidup yang membuat kita sempat beramal. Hidup yang membuat kita merasakan perasaan, emosi, dan cinta manusia. Hidup yang membuat kita belajar. Hidup yang membuat kita bisa saling mengevaluasi diri. Hidup yang membuat kita saling berkenalan. Hidup yang membuat kita saling membantu. Hidup yang membuat kita bersaudara…
Hidup, kawan…hidup.
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa beramal,,,
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa bekerja,,,
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa tersenyum,,,
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa mengumpulkan pundi-pundi pahala sebagai bekal di akhirat nanti…
Kematian itu bisa datang kapan saja, dan entah mengapa beberapa waktu terakhir ini aku merasa ia kerap kali datang menyapaku… Membuatku tertunduk dalam, sangat dalam, sehingga hati ini tak karuan dibuatnya.
Fenomena kematian, musibah, dan entah apalagi yang terjadi disekitarku..semua mendesak diri ini untuk kembali bermuhasabah diri, memutar kembali episode hidup yang telah terlewati. Benarlah kata Hasan Al Bashri…bahwa hidup kita hanyalah tiga hari, Hari kemarin yang sudah berlalu, dan kita tidak bisa lagi untuk mengubahnya. Hari esok, yang kita tidak tahu apakah kita akan masih memiliki kesempatan di dalamnya. Dan hari ini, kesempatan untuk kita melakukan amal sholih.
Mari sahabat, kita renungi kembali makna hidup ini…
Kita gali kembali kekurangan yang perlu kita perbaiki…
Dan kita manfaatkan diri kita untuk selalu beramal sholih sebagai wujud kesyukuran kita pada Allah Rabbul ‘Izzati.
Kita akhiri note ini dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Afwan jiddan atas setiap kekhilafan yang pernah saya lakukan pada teman-teman semuanya.
Allah menyadarkanku bahwa aku perlu untuk lebih memperhatikan hak atas diriku, karena aku lalai, aku seringkali mendahulukan kepentingan yang lain dibanding kepentingan diriku…bahkan tak ada kata tawazun.
Sahabat, kemudian Allah membangkitkan diriku dari ‘tidur’ yang panjang…
Aku menyadari bahwasanya ‘tidur’ku terlalu lelap dan aku telah banyak membuat orang lain menjadi korban atas kekhilafanku sehingga Allah ‘menyiram’ku dengan air dingin tepat diwajahku. Aku terbangun, tersadar, dan aku pun beranjak untuk menata kembali apa yang sempat terabaikan.
Alhamdulillaah, di ‘sana’ banyak hikmah yang Allah ajarkan padaku. Diantaranya:
1. Keikhlashan
2. Kesabaran
3. Kegigihan
4. Husnuzhon dalam segala hal
5. Jika ingin berkata maka bicaralah dengan kerja
dan masih banyak lagi kawan…
Tak kan pernah cukup apabila seluruh lautan ku jadikan tinta untuk menuliskan nikmat dan hikmah yang telah Allah berikan padaku. Satu nikmat yang begitu berharga…kehidupan. Hidup yang membuat kita sempat beramal. Hidup yang membuat kita merasakan perasaan, emosi, dan cinta manusia. Hidup yang membuat kita belajar. Hidup yang membuat kita bisa saling mengevaluasi diri. Hidup yang membuat kita saling berkenalan. Hidup yang membuat kita saling membantu. Hidup yang membuat kita bersaudara…
Hidup, kawan…hidup.
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa beramal,,,
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa bekerja,,,
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa tersenyum,,,
Bersyukurlah, kita yang hari ini masih bisa mengumpulkan pundi-pundi pahala sebagai bekal di akhirat nanti…
Kematian itu bisa datang kapan saja, dan entah mengapa beberapa waktu terakhir ini aku merasa ia kerap kali datang menyapaku… Membuatku tertunduk dalam, sangat dalam, sehingga hati ini tak karuan dibuatnya.
Fenomena kematian, musibah, dan entah apalagi yang terjadi disekitarku..semua mendesak diri ini untuk kembali bermuhasabah diri, memutar kembali episode hidup yang telah terlewati. Benarlah kata Hasan Al Bashri…bahwa hidup kita hanyalah tiga hari, Hari kemarin yang sudah berlalu, dan kita tidak bisa lagi untuk mengubahnya. Hari esok, yang kita tidak tahu apakah kita akan masih memiliki kesempatan di dalamnya. Dan hari ini, kesempatan untuk kita melakukan amal sholih.
Mari sahabat, kita renungi kembali makna hidup ini…
Kita gali kembali kekurangan yang perlu kita perbaiki…
Dan kita manfaatkan diri kita untuk selalu beramal sholih sebagai wujud kesyukuran kita pada Allah Rabbul ‘Izzati.
Kita akhiri note ini dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Afwan jiddan atas setiap kekhilafan yang pernah saya lakukan pada teman-teman semuanya.
Kamis, 23 Desember 2010
Renungan Akhir Semester
Hari ini adalah hari terakhir yang dinanti, bukan karena tidak senang menimba ilmu, tetapi karena hari ini akhirnya saya dapat beristirahat. Kurang lebih sebulan lamanya diri ini bergelut dengan waktu, buku, dan kertas-kertas ujian. Apalagi kalau bukan penghujung semester. Semua saling kebut, semua saling rebut, semua saling sikut...entah dimana kesportifan kita ketika berkompetisi? Kompetisi ini bukanlagi kompetisi sehat.
Sore ini, di sebuah sudut kampus saya menyelami kembali makna ujian bagi para pembelajar. Ujian yang selayaknya menjadi ajang dalam mengukur kemampuan kita memahami pelajaran kini tak ubahnya seperti sekedar ajang mencari prestasi. entah valid atau tidak, begitulah kenyataanya. Disinilah kita berbicara integritas, mencairkan lagi pikiran-pikiran beku kita tentang pendidikan.
Setelah diulas kembali, pada akhirnya saya memberikan sedikit simpulan atas moment 'sakral' para pembelajar ini,
Allah mengajarkan banyak hal dalam hidup
Dimulai dari nol, saat kita tidak bisa melakukan apa-apa
Tanpa sadar, secara fitrahnya kita berusaha...berusaha merubah diri dengan cara kita masing-masing
Dari seorang anak bayi yang hanya bisa tidur dan menangis,
menjadi balita yang pandai merangkak kemudian berdiri bahkan berlari!
Kita punya potensi besar,
lebih besar dari hal yang kita duga
tetapi tanpa sadar, ia terhambat
Karena apa?
Ternyata karena kita lupa pada potensi itu dan seringkali tidak mempercayai diri sendiri...
Padahal, bukankah kita berdiri dengan kaki kita masing-masing?
Lalu kenapa khawatir kalah?
jangan takut pada masa depan yang kita tidak tau bagaimana akhirnya,
tetapi bekerjalah dengan seihsan(sebaik dan terbaik) yang bisa kita perbuat.
Niscaya lebih berkah dan manfaat...semoga SUKSES!!!
_didedikasikan untuk semua pembelajar di seluruh tanah air tercinta_
Sore ini, di sebuah sudut kampus saya menyelami kembali makna ujian bagi para pembelajar. Ujian yang selayaknya menjadi ajang dalam mengukur kemampuan kita memahami pelajaran kini tak ubahnya seperti sekedar ajang mencari prestasi. entah valid atau tidak, begitulah kenyataanya. Disinilah kita berbicara integritas, mencairkan lagi pikiran-pikiran beku kita tentang pendidikan.
Setelah diulas kembali, pada akhirnya saya memberikan sedikit simpulan atas moment 'sakral' para pembelajar ini,
Allah mengajarkan banyak hal dalam hidup
Dimulai dari nol, saat kita tidak bisa melakukan apa-apa
Tanpa sadar, secara fitrahnya kita berusaha...berusaha merubah diri dengan cara kita masing-masing
Dari seorang anak bayi yang hanya bisa tidur dan menangis,
menjadi balita yang pandai merangkak kemudian berdiri bahkan berlari!
Kita punya potensi besar,
lebih besar dari hal yang kita duga
tetapi tanpa sadar, ia terhambat
Karena apa?
Ternyata karena kita lupa pada potensi itu dan seringkali tidak mempercayai diri sendiri...
Padahal, bukankah kita berdiri dengan kaki kita masing-masing?
Lalu kenapa khawatir kalah?
jangan takut pada masa depan yang kita tidak tau bagaimana akhirnya,
tetapi bekerjalah dengan seihsan(sebaik dan terbaik) yang bisa kita perbuat.
Niscaya lebih berkah dan manfaat...semoga SUKSES!!!
_didedikasikan untuk semua pembelajar di seluruh tanah air tercinta_
Rabu, 22 Desember 2010
Gelombang Kehidupan
Mengarungi samudera kehidupan
kita ibarat para pengembara
hidup ini adalah perjuangan
tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
dat akan sirna ditelan masa
segores luka,dijalan Allah
kan menjadi saksi perjuangan....
Menggema nasyid gelombang keadilan, ketika semua tampak berlalu dalam sunyi. Ada kerinduan disana, kerinduan akan sebuah medan dakwah yang berdetak dalam satuan waktu yang tak terjangkau oleh panca indera. Entah kenapa, dari dulu saya sangat interest dengan hal-hal yang bernafaskan kehidupan. Baik itu dalam segi perkembangan manusia, psikomotoriknya, maupun hal lain yang masih berkaian dengannya.
Gelombang kehidupan(agak sedikit diplesetkan dari judul nasyid, red.), ia tak pernah tampak layu ataupun mati, karena definisi hidup seringkali memberi tafsiran yang berbeda bagi masing-masing orang yang melakoninya. Dalam hidup ada dua hal berbeda yang sering dianggap sama, yaitu pintar dan cerdas. Padahal tidak semua orang pintar itu cerdas. Dan dapat dipastikan bahwa orang cerdas itu pintar. Dalam hal apa? Gampangannya, pintar itu hanya sebatas ia mampu menyelesaikan suatu masalah, kemudian keluar sebagai pemenang. Sedangkan cerdas, ia tak hanya mampu menyelesaikan suatu masalah, tetapi ia juga mampu menjabarkan permasalahan tersebut, mencari solusi, menentukan langkah-langkah pasti, menganalisis resiko yang dihadapi, memilih jalan yang terbaik, kemudian keluar sebagai pemenang sejati. Yup's PEMENANG SEJATI kawan!? Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, mukmin yang cerdas adalah seorang yang selalu mengingat mati. Kenapa bisa dikatakan cerdas??? Karena seorang mukmin selalu memikirkan kehidupan yang akan dihadapinya di masa yang akan datang dan dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Ia siap dengan segala resiko, ia dalami betul pemahaman dalam agamanya kemudian ia amalkan hal-hal yang wajib dan sunnah sebanyak-banyaknya serta meninggalkan perkara syubhat yang meragukan hukumnya.
Begitu juga dengan kehidupan. Gelombang yang dihadapi manusia dapat dianalogikan dengan gelombang air dilautan. Ia datang menghampiri, menyeretnya, dan menenggelamkannya. Yang mempu bertahan adalah orang yang memiliki kekuatan, kemandirian, keistiqomahan. Dimana ia berdiri, di sanalah ia sanggup mewarnai, bukan terwarnai. Dan sayangnya tak semua paham dengan prinsip kehidupan yang pasti. Bahkan, visi-misi hidup saja masih terkesan ngambang. Bukankah sangat merugi apabila kehidupan ini hanya terisi dengan hal duniawi? Disatu sisi mungkin saja terasa fine, it's ok! Tapi, sekali lagi, hidup kita tak hanya sebatas di alam ini. Masih ada beberapa fase kehidupan kita yang saat ini menanti untuk dilewati. Ajal manusia siapa yang tau???
Bisa jadi saat ini, dikasur yang empuk, ditemani pasangan tercinta kita dijemput oleh malaikat Allah. Atau mungkin ketika dalam perjalanan tamasya kita tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Dan tak menutup kemungkinan, ketika sujud dalam sholat pun kita dijemput oleh Sang Kekasih....Subhanallah, contoh terakhir inilah dambaan semua makhluk. Tentunya ia makhluk Allah swt. yang istimewa, karena ia terlahir dengan istimewa, hidupnya pun ia buat menjadi sangat istimewa dengan ibadah sehingga ia pun dijemput dalam keadaan beribadah padanya. Smoga kita termasuk dalam golongan orang yang matinya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.
Itulah gelombang kehidupan yang senantiasa menggema dalam alam pikiran, yang dengan tanpa sadar perlahan mengajakku kembali berpikir dan terus berpikir. Mengarungi kembali apa yang telah aku lakukan, menyelami kembali hakikat kehidupan, dan mencari kesempatan dalam detik-detik yang merongrong seperti limit x mendekati 0. Hidup tak kenal lelah, dan jangan lelah...waktu kita tak banyak, tak bisa diperkirakan. Jalani saja kehidupan ini dengan hal terbaik yang kau miliki, sehingga tak terbersit lagi kata menyesal. SEMANGAT!!!! FIGHT-OH! \^0^/
kita ibarat para pengembara
hidup ini adalah perjuangan
tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
dat akan sirna ditelan masa
segores luka,dijalan Allah
kan menjadi saksi perjuangan....
Menggema nasyid gelombang keadilan, ketika semua tampak berlalu dalam sunyi. Ada kerinduan disana, kerinduan akan sebuah medan dakwah yang berdetak dalam satuan waktu yang tak terjangkau oleh panca indera. Entah kenapa, dari dulu saya sangat interest dengan hal-hal yang bernafaskan kehidupan. Baik itu dalam segi perkembangan manusia, psikomotoriknya, maupun hal lain yang masih berkaian dengannya.
Gelombang kehidupan(agak sedikit diplesetkan dari judul nasyid, red.), ia tak pernah tampak layu ataupun mati, karena definisi hidup seringkali memberi tafsiran yang berbeda bagi masing-masing orang yang melakoninya. Dalam hidup ada dua hal berbeda yang sering dianggap sama, yaitu pintar dan cerdas. Padahal tidak semua orang pintar itu cerdas. Dan dapat dipastikan bahwa orang cerdas itu pintar. Dalam hal apa? Gampangannya, pintar itu hanya sebatas ia mampu menyelesaikan suatu masalah, kemudian keluar sebagai pemenang. Sedangkan cerdas, ia tak hanya mampu menyelesaikan suatu masalah, tetapi ia juga mampu menjabarkan permasalahan tersebut, mencari solusi, menentukan langkah-langkah pasti, menganalisis resiko yang dihadapi, memilih jalan yang terbaik, kemudian keluar sebagai pemenang sejati. Yup's PEMENANG SEJATI kawan!? Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, mukmin yang cerdas adalah seorang yang selalu mengingat mati. Kenapa bisa dikatakan cerdas??? Karena seorang mukmin selalu memikirkan kehidupan yang akan dihadapinya di masa yang akan datang dan dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Ia siap dengan segala resiko, ia dalami betul pemahaman dalam agamanya kemudian ia amalkan hal-hal yang wajib dan sunnah sebanyak-banyaknya serta meninggalkan perkara syubhat yang meragukan hukumnya.
Begitu juga dengan kehidupan. Gelombang yang dihadapi manusia dapat dianalogikan dengan gelombang air dilautan. Ia datang menghampiri, menyeretnya, dan menenggelamkannya. Yang mempu bertahan adalah orang yang memiliki kekuatan, kemandirian, keistiqomahan. Dimana ia berdiri, di sanalah ia sanggup mewarnai, bukan terwarnai. Dan sayangnya tak semua paham dengan prinsip kehidupan yang pasti. Bahkan, visi-misi hidup saja masih terkesan ngambang. Bukankah sangat merugi apabila kehidupan ini hanya terisi dengan hal duniawi? Disatu sisi mungkin saja terasa fine, it's ok! Tapi, sekali lagi, hidup kita tak hanya sebatas di alam ini. Masih ada beberapa fase kehidupan kita yang saat ini menanti untuk dilewati. Ajal manusia siapa yang tau???
Bisa jadi saat ini, dikasur yang empuk, ditemani pasangan tercinta kita dijemput oleh malaikat Allah. Atau mungkin ketika dalam perjalanan tamasya kita tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Dan tak menutup kemungkinan, ketika sujud dalam sholat pun kita dijemput oleh Sang Kekasih....Subhanallah, contoh terakhir inilah dambaan semua makhluk. Tentunya ia makhluk Allah swt. yang istimewa, karena ia terlahir dengan istimewa, hidupnya pun ia buat menjadi sangat istimewa dengan ibadah sehingga ia pun dijemput dalam keadaan beribadah padanya. Smoga kita termasuk dalam golongan orang yang matinya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.
Itulah gelombang kehidupan yang senantiasa menggema dalam alam pikiran, yang dengan tanpa sadar perlahan mengajakku kembali berpikir dan terus berpikir. Mengarungi kembali apa yang telah aku lakukan, menyelami kembali hakikat kehidupan, dan mencari kesempatan dalam detik-detik yang merongrong seperti limit x mendekati 0. Hidup tak kenal lelah, dan jangan lelah...waktu kita tak banyak, tak bisa diperkirakan. Jalani saja kehidupan ini dengan hal terbaik yang kau miliki, sehingga tak terbersit lagi kata menyesal. SEMANGAT!!!! FIGHT-OH! \^0^/
Selasa, 12 Oktober 2010
Menyerah Bukanlah Jalan Keluar
Sempat terpikir untuk berhenti menghadapi tiap kegagalan yang dialami bukanlah hal yang bijak. Seseorang jika memang memiliki visi-misi hidup yang matang taka akan mungkin menjadikan hal ini sebagai langkah terakhir. Jika orang mengatakan bahwa kemampuan kita terbatas, ya memang terbatas tapi perlu diingat bahwa terkadang kita sendiri yang membatasinya.
Apa sih sebenarnya maksud dari melakukan sesuatu secara maksimal??? Ibarat air yang dituangkan dalam sebuah gelas, maksimal disini adalah ketika air yang dituangkan luber. Apabila belum, tentulah itu bukan maksimal namanya...kitanya saja yang enggan. Nah, klo udah begitu apa kemudian kita membiarkan dan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki? TIDAK, Sobat! Kita BISA dan MAMPU 'tuk lakukan semua itu, karena kita tercipta dengan berjuta potensi. Klo membaca paragraf demi paragraf buku The Divine Massage of DNA mungkin barulah kita tersadar bahwa seseungguhnya, ada sisi dalam hidup kita yang selama ini masih tertidur, entah belum sempat dbangunkan atau saking tidak sadarnya sehingga kita melupakannya?
Berpikirlah lebih dewasa, jangan menganggap kegagalan adalah kesia-siaan tapi jadikan sebagai pelejit potensi hidup kita. Klo nggak sekarang kapan lagi???
Gagal itu peringatan, pertanda kita harus lebih banyak belajar lagi... So, daripada diam n nggak ngehasilin apa-apa mending belajar dan bangkit berusaha lagi.
Ingat 1 X 16 itu beda sama 16 X 1....hasilnya, kualitasnya, dan cetakannya jelas beda!
SEMANGAT menuju pribadi TAQWA!
Apa sih sebenarnya maksud dari melakukan sesuatu secara maksimal??? Ibarat air yang dituangkan dalam sebuah gelas, maksimal disini adalah ketika air yang dituangkan luber. Apabila belum, tentulah itu bukan maksimal namanya...kitanya saja yang enggan. Nah, klo udah begitu apa kemudian kita membiarkan dan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki? TIDAK, Sobat! Kita BISA dan MAMPU 'tuk lakukan semua itu, karena kita tercipta dengan berjuta potensi. Klo membaca paragraf demi paragraf buku The Divine Massage of DNA mungkin barulah kita tersadar bahwa seseungguhnya, ada sisi dalam hidup kita yang selama ini masih tertidur, entah belum sempat dbangunkan atau saking tidak sadarnya sehingga kita melupakannya?
Berpikirlah lebih dewasa, jangan menganggap kegagalan adalah kesia-siaan tapi jadikan sebagai pelejit potensi hidup kita. Klo nggak sekarang kapan lagi???
Gagal itu peringatan, pertanda kita harus lebih banyak belajar lagi... So, daripada diam n nggak ngehasilin apa-apa mending belajar dan bangkit berusaha lagi.
Ingat 1 X 16 itu beda sama 16 X 1....hasilnya, kualitasnya, dan cetakannya jelas beda!
SEMANGAT menuju pribadi TAQWA!
Jumat, 01 Oktober 2010
Masa Depan Kita
Masa depan adalah rangkaian dari kehidupan kita. Yang merupakan suatu keniscayaan. Masa depan memberikan arti penting bagi tiap visi-misi hidup saat ini, karena disana tersimpan berjuta impian yang memerlukan usaha dalam meraihnya.
Manusia modern dengan perkembangan pengetahuan yang semakin 'menggila' seringkali mewujudkan hal 'gila' pula yang terapresiasikan nyata. Kehidupan yang serba instan hanya akan melewatkan waktu-waktu berharga pembelajaran yang sesungguhnya. Dulu ketika kalkulator belum jadi pegangan, otak adalah satu-satunya andalan kita dalam mengolah angka. Kendati demikian, pikiran yang sudah terbiasa instan pun selalu mencari cara instan pula untuk mengkalkulasikannya. Tak perlulah saya menuliskannya dalam bentuk kata, karena hal ini sudah sangat dimengerti oleh manusia modern saat ini. Lambat laun yang tersisa di bumi ini hanyalah orang-orang instan. Tak ada lagi cerita trentang perjuangan, tak ada lagi terdengar cerita sedih akibat kegagalan. Semua instan, mudah diakses, bahkan seringkali berbentuk jaringan.
Sayangnya otak ini apabila belum bekerja secara maksimal. Tak hanya persoalan spesialisasi yang kita tempuh saja yang perlu disoroti, tetapi juga kemampuan kita dalam beraktualisasi dilapangan yang perlu dipraktekkan karena terkadang fasilitas hanya menggiring kta untuk menghentikan aktivitas-aktivitas itu.
Sungguh sayang sekali jika pengalaman hidup itu tak ada yang kita rasakan dan maknai. Karena hidup bukanlah hanya kesenangan semata. Iya, klo misalnya ia bisa menjamin kehidupannya akan selalu dalam masa-masa yang pasti bahagia selamanya. Adakah kau rasakan kehampaan ketika kau menjalani hidup? Jika iya, mungkin itu adalah bagian dari sisi-sisi kehidupan kita yang belum sampat kita poles.
Maka, jalanilah hidup ini dengan sebagaimana mestinya. Memanfaatkan tiap potensi baik dalam diri kita akan mengantarkan kita untuk jauh memahami kehidupan itu sendiri, kita akan siap jikalau harus berada di bawah dan tidak takabur ketika nikmat Allah datang bertubi-tubi karena semuanya hanyalah milik Allah 'Azza wa jalla. Wallahu'alam bishshowab.
-Terinspirasi dari pengalaman hidup malaikat duniaku, sungguh aku bersyukur menjadi bagian dari keduanya. Allah Maha Penyayang-
Manusia modern dengan perkembangan pengetahuan yang semakin 'menggila' seringkali mewujudkan hal 'gila' pula yang terapresiasikan nyata. Kehidupan yang serba instan hanya akan melewatkan waktu-waktu berharga pembelajaran yang sesungguhnya. Dulu ketika kalkulator belum jadi pegangan, otak adalah satu-satunya andalan kita dalam mengolah angka. Kendati demikian, pikiran yang sudah terbiasa instan pun selalu mencari cara instan pula untuk mengkalkulasikannya. Tak perlulah saya menuliskannya dalam bentuk kata, karena hal ini sudah sangat dimengerti oleh manusia modern saat ini. Lambat laun yang tersisa di bumi ini hanyalah orang-orang instan. Tak ada lagi cerita trentang perjuangan, tak ada lagi terdengar cerita sedih akibat kegagalan. Semua instan, mudah diakses, bahkan seringkali berbentuk jaringan.
Sayangnya otak ini apabila belum bekerja secara maksimal. Tak hanya persoalan spesialisasi yang kita tempuh saja yang perlu disoroti, tetapi juga kemampuan kita dalam beraktualisasi dilapangan yang perlu dipraktekkan karena terkadang fasilitas hanya menggiring kta untuk menghentikan aktivitas-aktivitas itu.
Sungguh sayang sekali jika pengalaman hidup itu tak ada yang kita rasakan dan maknai. Karena hidup bukanlah hanya kesenangan semata. Iya, klo misalnya ia bisa menjamin kehidupannya akan selalu dalam masa-masa yang pasti bahagia selamanya. Adakah kau rasakan kehampaan ketika kau menjalani hidup? Jika iya, mungkin itu adalah bagian dari sisi-sisi kehidupan kita yang belum sampat kita poles.
Maka, jalanilah hidup ini dengan sebagaimana mestinya. Memanfaatkan tiap potensi baik dalam diri kita akan mengantarkan kita untuk jauh memahami kehidupan itu sendiri, kita akan siap jikalau harus berada di bawah dan tidak takabur ketika nikmat Allah datang bertubi-tubi karena semuanya hanyalah milik Allah 'Azza wa jalla. Wallahu'alam bishshowab.
-Terinspirasi dari pengalaman hidup malaikat duniaku, sungguh aku bersyukur menjadi bagian dari keduanya. Allah Maha Penyayang-
Langganan:
Postingan (Atom)
