Hari ini adalah hari terakhir yang dinanti, bukan karena tidak senang menimba ilmu, tetapi karena hari ini akhirnya saya dapat beristirahat. Kurang lebih sebulan lamanya diri ini bergelut dengan waktu, buku, dan kertas-kertas ujian. Apalagi kalau bukan penghujung semester. Semua saling kebut, semua saling rebut, semua saling sikut...entah dimana kesportifan kita ketika berkompetisi? Kompetisi ini bukanlagi kompetisi sehat.
Sore ini, di sebuah sudut kampus saya menyelami kembali makna ujian bagi para pembelajar. Ujian yang selayaknya menjadi ajang dalam mengukur kemampuan kita memahami pelajaran kini tak ubahnya seperti sekedar ajang mencari prestasi. entah valid atau tidak, begitulah kenyataanya. Disinilah kita berbicara integritas, mencairkan lagi pikiran-pikiran beku kita tentang pendidikan.
Setelah diulas kembali, pada akhirnya saya memberikan sedikit simpulan atas moment 'sakral' para pembelajar ini,
Allah mengajarkan banyak hal dalam hidup
Dimulai dari nol, saat kita tidak bisa melakukan apa-apa
Tanpa sadar, secara fitrahnya kita berusaha...berusaha merubah diri dengan cara kita masing-masing
Dari seorang anak bayi yang hanya bisa tidur dan menangis,
menjadi balita yang pandai merangkak kemudian berdiri bahkan berlari!
Kita punya potensi besar,
lebih besar dari hal yang kita duga
tetapi tanpa sadar, ia terhambat
Karena apa?
Ternyata karena kita lupa pada potensi itu dan seringkali tidak mempercayai diri sendiri...
Padahal, bukankah kita berdiri dengan kaki kita masing-masing?
Lalu kenapa khawatir kalah?
jangan takut pada masa depan yang kita tidak tau bagaimana akhirnya,
tetapi bekerjalah dengan seihsan(sebaik dan terbaik) yang bisa kita perbuat.
Niscaya lebih berkah dan manfaat...semoga SUKSES!!!
_didedikasikan untuk semua pembelajar di seluruh tanah air tercinta_
Sebuah catatan panjang perjalanan anak rantau yang terlahir dari rahim para perantau dengan maksud mengabadikan episode hidupnya,episode demi episode...Smoga bisa menghibur para pembaca!
Kamis, 23 Desember 2010
Rabu, 22 Desember 2010
Gelombang Kehidupan
Mengarungi samudera kehidupan
kita ibarat para pengembara
hidup ini adalah perjuangan
tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
dat akan sirna ditelan masa
segores luka,dijalan Allah
kan menjadi saksi perjuangan....
Menggema nasyid gelombang keadilan, ketika semua tampak berlalu dalam sunyi. Ada kerinduan disana, kerinduan akan sebuah medan dakwah yang berdetak dalam satuan waktu yang tak terjangkau oleh panca indera. Entah kenapa, dari dulu saya sangat interest dengan hal-hal yang bernafaskan kehidupan. Baik itu dalam segi perkembangan manusia, psikomotoriknya, maupun hal lain yang masih berkaian dengannya.
Gelombang kehidupan(agak sedikit diplesetkan dari judul nasyid, red.), ia tak pernah tampak layu ataupun mati, karena definisi hidup seringkali memberi tafsiran yang berbeda bagi masing-masing orang yang melakoninya. Dalam hidup ada dua hal berbeda yang sering dianggap sama, yaitu pintar dan cerdas. Padahal tidak semua orang pintar itu cerdas. Dan dapat dipastikan bahwa orang cerdas itu pintar. Dalam hal apa? Gampangannya, pintar itu hanya sebatas ia mampu menyelesaikan suatu masalah, kemudian keluar sebagai pemenang. Sedangkan cerdas, ia tak hanya mampu menyelesaikan suatu masalah, tetapi ia juga mampu menjabarkan permasalahan tersebut, mencari solusi, menentukan langkah-langkah pasti, menganalisis resiko yang dihadapi, memilih jalan yang terbaik, kemudian keluar sebagai pemenang sejati. Yup's PEMENANG SEJATI kawan!? Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, mukmin yang cerdas adalah seorang yang selalu mengingat mati. Kenapa bisa dikatakan cerdas??? Karena seorang mukmin selalu memikirkan kehidupan yang akan dihadapinya di masa yang akan datang dan dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Ia siap dengan segala resiko, ia dalami betul pemahaman dalam agamanya kemudian ia amalkan hal-hal yang wajib dan sunnah sebanyak-banyaknya serta meninggalkan perkara syubhat yang meragukan hukumnya.
Begitu juga dengan kehidupan. Gelombang yang dihadapi manusia dapat dianalogikan dengan gelombang air dilautan. Ia datang menghampiri, menyeretnya, dan menenggelamkannya. Yang mempu bertahan adalah orang yang memiliki kekuatan, kemandirian, keistiqomahan. Dimana ia berdiri, di sanalah ia sanggup mewarnai, bukan terwarnai. Dan sayangnya tak semua paham dengan prinsip kehidupan yang pasti. Bahkan, visi-misi hidup saja masih terkesan ngambang. Bukankah sangat merugi apabila kehidupan ini hanya terisi dengan hal duniawi? Disatu sisi mungkin saja terasa fine, it's ok! Tapi, sekali lagi, hidup kita tak hanya sebatas di alam ini. Masih ada beberapa fase kehidupan kita yang saat ini menanti untuk dilewati. Ajal manusia siapa yang tau???
Bisa jadi saat ini, dikasur yang empuk, ditemani pasangan tercinta kita dijemput oleh malaikat Allah. Atau mungkin ketika dalam perjalanan tamasya kita tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Dan tak menutup kemungkinan, ketika sujud dalam sholat pun kita dijemput oleh Sang Kekasih....Subhanallah, contoh terakhir inilah dambaan semua makhluk. Tentunya ia makhluk Allah swt. yang istimewa, karena ia terlahir dengan istimewa, hidupnya pun ia buat menjadi sangat istimewa dengan ibadah sehingga ia pun dijemput dalam keadaan beribadah padanya. Smoga kita termasuk dalam golongan orang yang matinya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.
Itulah gelombang kehidupan yang senantiasa menggema dalam alam pikiran, yang dengan tanpa sadar perlahan mengajakku kembali berpikir dan terus berpikir. Mengarungi kembali apa yang telah aku lakukan, menyelami kembali hakikat kehidupan, dan mencari kesempatan dalam detik-detik yang merongrong seperti limit x mendekati 0. Hidup tak kenal lelah, dan jangan lelah...waktu kita tak banyak, tak bisa diperkirakan. Jalani saja kehidupan ini dengan hal terbaik yang kau miliki, sehingga tak terbersit lagi kata menyesal. SEMANGAT!!!! FIGHT-OH! \^0^/
kita ibarat para pengembara
hidup ini adalah perjuangan
tiada masa tuk berpangku tangan
Setiap tetes peluh dan darah
dat akan sirna ditelan masa
segores luka,dijalan Allah
kan menjadi saksi perjuangan....
Menggema nasyid gelombang keadilan, ketika semua tampak berlalu dalam sunyi. Ada kerinduan disana, kerinduan akan sebuah medan dakwah yang berdetak dalam satuan waktu yang tak terjangkau oleh panca indera. Entah kenapa, dari dulu saya sangat interest dengan hal-hal yang bernafaskan kehidupan. Baik itu dalam segi perkembangan manusia, psikomotoriknya, maupun hal lain yang masih berkaian dengannya.
Gelombang kehidupan(agak sedikit diplesetkan dari judul nasyid, red.), ia tak pernah tampak layu ataupun mati, karena definisi hidup seringkali memberi tafsiran yang berbeda bagi masing-masing orang yang melakoninya. Dalam hidup ada dua hal berbeda yang sering dianggap sama, yaitu pintar dan cerdas. Padahal tidak semua orang pintar itu cerdas. Dan dapat dipastikan bahwa orang cerdas itu pintar. Dalam hal apa? Gampangannya, pintar itu hanya sebatas ia mampu menyelesaikan suatu masalah, kemudian keluar sebagai pemenang. Sedangkan cerdas, ia tak hanya mampu menyelesaikan suatu masalah, tetapi ia juga mampu menjabarkan permasalahan tersebut, mencari solusi, menentukan langkah-langkah pasti, menganalisis resiko yang dihadapi, memilih jalan yang terbaik, kemudian keluar sebagai pemenang sejati. Yup's PEMENANG SEJATI kawan!? Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa, mukmin yang cerdas adalah seorang yang selalu mengingat mati. Kenapa bisa dikatakan cerdas??? Karena seorang mukmin selalu memikirkan kehidupan yang akan dihadapinya di masa yang akan datang dan dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Ia siap dengan segala resiko, ia dalami betul pemahaman dalam agamanya kemudian ia amalkan hal-hal yang wajib dan sunnah sebanyak-banyaknya serta meninggalkan perkara syubhat yang meragukan hukumnya.
Begitu juga dengan kehidupan. Gelombang yang dihadapi manusia dapat dianalogikan dengan gelombang air dilautan. Ia datang menghampiri, menyeretnya, dan menenggelamkannya. Yang mempu bertahan adalah orang yang memiliki kekuatan, kemandirian, keistiqomahan. Dimana ia berdiri, di sanalah ia sanggup mewarnai, bukan terwarnai. Dan sayangnya tak semua paham dengan prinsip kehidupan yang pasti. Bahkan, visi-misi hidup saja masih terkesan ngambang. Bukankah sangat merugi apabila kehidupan ini hanya terisi dengan hal duniawi? Disatu sisi mungkin saja terasa fine, it's ok! Tapi, sekali lagi, hidup kita tak hanya sebatas di alam ini. Masih ada beberapa fase kehidupan kita yang saat ini menanti untuk dilewati. Ajal manusia siapa yang tau???
Bisa jadi saat ini, dikasur yang empuk, ditemani pasangan tercinta kita dijemput oleh malaikat Allah. Atau mungkin ketika dalam perjalanan tamasya kita tiba-tiba menghembuskan nafas terakhir. Dan tak menutup kemungkinan, ketika sujud dalam sholat pun kita dijemput oleh Sang Kekasih....Subhanallah, contoh terakhir inilah dambaan semua makhluk. Tentunya ia makhluk Allah swt. yang istimewa, karena ia terlahir dengan istimewa, hidupnya pun ia buat menjadi sangat istimewa dengan ibadah sehingga ia pun dijemput dalam keadaan beribadah padanya. Smoga kita termasuk dalam golongan orang yang matinya dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.
Itulah gelombang kehidupan yang senantiasa menggema dalam alam pikiran, yang dengan tanpa sadar perlahan mengajakku kembali berpikir dan terus berpikir. Mengarungi kembali apa yang telah aku lakukan, menyelami kembali hakikat kehidupan, dan mencari kesempatan dalam detik-detik yang merongrong seperti limit x mendekati 0. Hidup tak kenal lelah, dan jangan lelah...waktu kita tak banyak, tak bisa diperkirakan. Jalani saja kehidupan ini dengan hal terbaik yang kau miliki, sehingga tak terbersit lagi kata menyesal. SEMANGAT!!!! FIGHT-OH! \^0^/
Selasa, 12 Oktober 2010
Menyerah Bukanlah Jalan Keluar
Sempat terpikir untuk berhenti menghadapi tiap kegagalan yang dialami bukanlah hal yang bijak. Seseorang jika memang memiliki visi-misi hidup yang matang taka akan mungkin menjadikan hal ini sebagai langkah terakhir. Jika orang mengatakan bahwa kemampuan kita terbatas, ya memang terbatas tapi perlu diingat bahwa terkadang kita sendiri yang membatasinya.
Apa sih sebenarnya maksud dari melakukan sesuatu secara maksimal??? Ibarat air yang dituangkan dalam sebuah gelas, maksimal disini adalah ketika air yang dituangkan luber. Apabila belum, tentulah itu bukan maksimal namanya...kitanya saja yang enggan. Nah, klo udah begitu apa kemudian kita membiarkan dan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki? TIDAK, Sobat! Kita BISA dan MAMPU 'tuk lakukan semua itu, karena kita tercipta dengan berjuta potensi. Klo membaca paragraf demi paragraf buku The Divine Massage of DNA mungkin barulah kita tersadar bahwa seseungguhnya, ada sisi dalam hidup kita yang selama ini masih tertidur, entah belum sempat dbangunkan atau saking tidak sadarnya sehingga kita melupakannya?
Berpikirlah lebih dewasa, jangan menganggap kegagalan adalah kesia-siaan tapi jadikan sebagai pelejit potensi hidup kita. Klo nggak sekarang kapan lagi???
Gagal itu peringatan, pertanda kita harus lebih banyak belajar lagi... So, daripada diam n nggak ngehasilin apa-apa mending belajar dan bangkit berusaha lagi.
Ingat 1 X 16 itu beda sama 16 X 1....hasilnya, kualitasnya, dan cetakannya jelas beda!
SEMANGAT menuju pribadi TAQWA!
Apa sih sebenarnya maksud dari melakukan sesuatu secara maksimal??? Ibarat air yang dituangkan dalam sebuah gelas, maksimal disini adalah ketika air yang dituangkan luber. Apabila belum, tentulah itu bukan maksimal namanya...kitanya saja yang enggan. Nah, klo udah begitu apa kemudian kita membiarkan dan menyia-nyiakan potensi yang dimiliki? TIDAK, Sobat! Kita BISA dan MAMPU 'tuk lakukan semua itu, karena kita tercipta dengan berjuta potensi. Klo membaca paragraf demi paragraf buku The Divine Massage of DNA mungkin barulah kita tersadar bahwa seseungguhnya, ada sisi dalam hidup kita yang selama ini masih tertidur, entah belum sempat dbangunkan atau saking tidak sadarnya sehingga kita melupakannya?
Berpikirlah lebih dewasa, jangan menganggap kegagalan adalah kesia-siaan tapi jadikan sebagai pelejit potensi hidup kita. Klo nggak sekarang kapan lagi???
Gagal itu peringatan, pertanda kita harus lebih banyak belajar lagi... So, daripada diam n nggak ngehasilin apa-apa mending belajar dan bangkit berusaha lagi.
Ingat 1 X 16 itu beda sama 16 X 1....hasilnya, kualitasnya, dan cetakannya jelas beda!
SEMANGAT menuju pribadi TAQWA!
Jumat, 01 Oktober 2010
Masa Depan Kita
Masa depan adalah rangkaian dari kehidupan kita. Yang merupakan suatu keniscayaan. Masa depan memberikan arti penting bagi tiap visi-misi hidup saat ini, karena disana tersimpan berjuta impian yang memerlukan usaha dalam meraihnya.
Manusia modern dengan perkembangan pengetahuan yang semakin 'menggila' seringkali mewujudkan hal 'gila' pula yang terapresiasikan nyata. Kehidupan yang serba instan hanya akan melewatkan waktu-waktu berharga pembelajaran yang sesungguhnya. Dulu ketika kalkulator belum jadi pegangan, otak adalah satu-satunya andalan kita dalam mengolah angka. Kendati demikian, pikiran yang sudah terbiasa instan pun selalu mencari cara instan pula untuk mengkalkulasikannya. Tak perlulah saya menuliskannya dalam bentuk kata, karena hal ini sudah sangat dimengerti oleh manusia modern saat ini. Lambat laun yang tersisa di bumi ini hanyalah orang-orang instan. Tak ada lagi cerita trentang perjuangan, tak ada lagi terdengar cerita sedih akibat kegagalan. Semua instan, mudah diakses, bahkan seringkali berbentuk jaringan.
Sayangnya otak ini apabila belum bekerja secara maksimal. Tak hanya persoalan spesialisasi yang kita tempuh saja yang perlu disoroti, tetapi juga kemampuan kita dalam beraktualisasi dilapangan yang perlu dipraktekkan karena terkadang fasilitas hanya menggiring kta untuk menghentikan aktivitas-aktivitas itu.
Sungguh sayang sekali jika pengalaman hidup itu tak ada yang kita rasakan dan maknai. Karena hidup bukanlah hanya kesenangan semata. Iya, klo misalnya ia bisa menjamin kehidupannya akan selalu dalam masa-masa yang pasti bahagia selamanya. Adakah kau rasakan kehampaan ketika kau menjalani hidup? Jika iya, mungkin itu adalah bagian dari sisi-sisi kehidupan kita yang belum sampat kita poles.
Maka, jalanilah hidup ini dengan sebagaimana mestinya. Memanfaatkan tiap potensi baik dalam diri kita akan mengantarkan kita untuk jauh memahami kehidupan itu sendiri, kita akan siap jikalau harus berada di bawah dan tidak takabur ketika nikmat Allah datang bertubi-tubi karena semuanya hanyalah milik Allah 'Azza wa jalla. Wallahu'alam bishshowab.
-Terinspirasi dari pengalaman hidup malaikat duniaku, sungguh aku bersyukur menjadi bagian dari keduanya. Allah Maha Penyayang-
Manusia modern dengan perkembangan pengetahuan yang semakin 'menggila' seringkali mewujudkan hal 'gila' pula yang terapresiasikan nyata. Kehidupan yang serba instan hanya akan melewatkan waktu-waktu berharga pembelajaran yang sesungguhnya. Dulu ketika kalkulator belum jadi pegangan, otak adalah satu-satunya andalan kita dalam mengolah angka. Kendati demikian, pikiran yang sudah terbiasa instan pun selalu mencari cara instan pula untuk mengkalkulasikannya. Tak perlulah saya menuliskannya dalam bentuk kata, karena hal ini sudah sangat dimengerti oleh manusia modern saat ini. Lambat laun yang tersisa di bumi ini hanyalah orang-orang instan. Tak ada lagi cerita trentang perjuangan, tak ada lagi terdengar cerita sedih akibat kegagalan. Semua instan, mudah diakses, bahkan seringkali berbentuk jaringan.
Sayangnya otak ini apabila belum bekerja secara maksimal. Tak hanya persoalan spesialisasi yang kita tempuh saja yang perlu disoroti, tetapi juga kemampuan kita dalam beraktualisasi dilapangan yang perlu dipraktekkan karena terkadang fasilitas hanya menggiring kta untuk menghentikan aktivitas-aktivitas itu.
Sungguh sayang sekali jika pengalaman hidup itu tak ada yang kita rasakan dan maknai. Karena hidup bukanlah hanya kesenangan semata. Iya, klo misalnya ia bisa menjamin kehidupannya akan selalu dalam masa-masa yang pasti bahagia selamanya. Adakah kau rasakan kehampaan ketika kau menjalani hidup? Jika iya, mungkin itu adalah bagian dari sisi-sisi kehidupan kita yang belum sampat kita poles.
Maka, jalanilah hidup ini dengan sebagaimana mestinya. Memanfaatkan tiap potensi baik dalam diri kita akan mengantarkan kita untuk jauh memahami kehidupan itu sendiri, kita akan siap jikalau harus berada di bawah dan tidak takabur ketika nikmat Allah datang bertubi-tubi karena semuanya hanyalah milik Allah 'Azza wa jalla. Wallahu'alam bishshowab.
-Terinspirasi dari pengalaman hidup malaikat duniaku, sungguh aku bersyukur menjadi bagian dari keduanya. Allah Maha Penyayang-
Langganan:
Postingan (Atom)
